Kamis, 13 Oktober 2011
ABU AL HASAN AL ASY'ARI
Beliau bernama 'Ali bin Isma'il bin Abi Bisyr Ishaq bin Salim bin Isma'il bin Abdullah bin Musa bin Bilal bin Burdah bin Musa Al Asy'ary, lebih dikenal dengan Abu Al Hasan Al Asy'ary. Dilahirkan pada tahun 260 Hijriyah atau 875 Masehi, pada akhir masa daulah Abbasiyah yang waktu itu berkembang pesat berbagai aliran ilmu kalam, seperti : al Jahmiyah, al Qadariyah, al Khawarij, al Karamiyah, ar Rafidhah, al Mu'tazilah, al Qaramithah dan lain sebagainya.
Sejak kecil Abul Hasan telah yatim. Kemudian ibunya menikah dengan seorang tokoh Mu'tazilah bernama Abu 'Ali Al Jubba'i. Beliau (Abul Hasan) seorang yang cerdas, hafal Al Qur'an pada usia belasan tahun dan banyak pula belajar hadits. Pada akhirnya beliau berjumpa dengan ulama salaf bernama al Barbahari (wafat 329 H). inilah yang akhirnya merubah jalan hidupnya sampai beliau wafat pada tahun 324 H atau 939 M dalam usia 64 tahun.
Abu al Hasan al Asy'ary dan Mu'tazilah
Pada mulanya, selama hampir 40 tahun, beliau menjadi penganut Mu'tazilah yang setia mengikuti gurunya seorang tokoh Mu'tazilah yang juga ayah tirinya. Namun dengan hidayah Allah setelah beliau banyak merenungkan ayat-ayat Al Qur'an dan hadits-hadits Rasulullah, beliau mulai meragukan terhadap ajaran Mu'tazilah. Apalagi setelah dialog yang terkenal dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak dapat dijawab oleh Abu 'Ali al Jubba'i dan setelah mimpi beliau bertemu dengan Rasulullah, beliau secara tegas keluar dari Mu'tazilah.
Inti ajaran faham Mu'tazilah adalah dasar keyakinan harus bersumber kepada suatu yang "qath'i" dan sesuatu yang qath'i harus sesuatu yang masuk akal (rasional). Itulah sebabnya maka kaum Mu'tazilah menolak ajaran al Qur'an apalagi as Sunna yang tidak sesuai dengan akal (yang tidak rasional). Sebagaimana penolakan mereka terhadap mu'jizat para nabi, adanya malaikat, jin dan tidak percaya adaya takdir. Mereka berpendapat bahwa sunnatullah tidak mungkin dapat berubah, sesuai dengan firman Allah :
Tidak akan ada perubahan dalam sunnatillah (Al Ahzab:62; lihat juga Fathir:43 dan Al Fath:23).
Itulah sebabnya mereka tidak percaya adanya mu'jizat, yang dianggapnya tidak rasional. Menurut mereka bila benar ada mu'jizat berarti Allah telah melangar sunnah-Nya sendiri.
Sudah barang tentu pendapat seperti ini bertentangan dengan apa yang dikajinya dari al Qur'an dan as Sunnah. Bukankah Allah menyatakan bahwa dirinya :
(Allah) melakukan segala apa yang Dia kehendaki (Hud : 107)
untuk kehidupan manusia Allah telah memberikan hukum yang dinmakan sunnatullah dan bersifat tetap. Tetapi bagi Allah berlaku hukum pengecualian, karena sifat-Nya sebagai Pencipta yang Maha Kuasa. Allah adalah Penguasa mutlak. Hukum yang berlaku bagi manusia jelas berbeda dengan hukum yang berlaku bagi Allah. Bukankah Allah dalam mencipta segala sesuatu tidak melalui hukum sunnatullah yang berlaku bagi kehidupan manusia ? Allah telah menciptakan sesuatu yang tidak ada menjadi ada, menciptakan dari suatu benda mati menjadi benda hidup. Adakah yang dilakukan Allah dapat dinilai secara rasional ?
itulah diantara hal-hal yang dibahas oleh Abu Al-Hasan Al Asy'ary dalam segi aqidah dalam rangka koreksi terhadap faham mu'tazilah, disamping masalah takdir, malaikat dan hal-hal yang termasuk ghaibiyat.
Salah satu dialog beliau dengan Abu Ali Al Jubba'i yang terkenal adalan mengenai, apakah perbuatan Allah dapat diketahui hikmahnya atau di ta'lilkan atau tidakl. Faham Mu'tazilah berpendapat bahwa perbuatan Allah dapat dita'lilkan dan diuraikan hikmahnya. Sedangkan menurut pendapat Ahlus Sunnah tidak. Berikut ini dialog antara Abu Al Hasan dengan Abu Ali al Jubba'i
Al Asy'ary (A) : Bagaimana kedudukan orang mukmin dan orang kafir menurut tuan?
Al Jubba'i (B) : Orang mukmin mendapat tingkat tinggi di dalam surga karena imannya dan orang kafir masuk ke dalam neraka.
A : Bagaimana dengan anak kecil?
B : anak kecil tidak akan masuk neraka
A : dapatkah anak kecil mendapatkan tingkat yang tinggi seperti orang mukmin?
B : tidak, karena tidak pernah berbuat baik
A : kalau demikian anak kecil itu akan memprotes Allah kenapa ia tidak diberi umur panjang untuk berbuat kebaikan
B : Allah akan menjawab, kalau Aku biarkan engkau hidup, engkau akan berbuat kejahatan atau kekafiran sehingga engkau tidak akan selamat.
A : kalau demikian, orang kafir pun akan protes ketika masuk neraka, mengapa Allah tidak mematikannya sewaktu kecil agar selamat dari neraka.
Abu Ali Al Jubba'i tidak dapat menjawab lagi, ternyata akal tidak dapat diandalkan.
Abu al Hasan Al Asy'ary dalam meninjau masalah ini selalu berdasar kepada sunnah Rasulullah. Itulah sebabnya maka madzhab yang dicetuskannya lebih dikenal dengan Ahlus Sunnah wal Jama'ah.
Abu al Hasan al Asy'ary Pencetus Faham Asy'ariyah
Namun karena pengaruh yang cukup dalam dari faham Mu'tazilah, pada mulanya cetudan pendapat Abu al Hasan sedikit banya dipengaruhi oleh Ilmu Kalam. Keadaan seperti ini sangat dimaklumi karena tantangan yang beliau hadapi adalah kelompok yang selalu berhujjah kepada rasio, maka usaha beliau untuk koreksi terhadap Mu'tazilah juga berusaha dengan memberikan jawaban yang rasional. Setidak-tidaknya beliau berusaha menjelaskan dalil-dalil dari Al Qur'an atau As Sunnah secara rasional. Hal ini dapat dilihat ketika beliau membahas tentang sifat Allah dalam beberapa hal beliau masih menta'wilkan sebagiannya. Beliau menyampaikan pendapatnya tentang adanya sifat Allah yang wajib menurut akal.
Pada mulanya manhaj Abul Hasan Al Asy'ary dalam bidang aqidah menurut pengkuan secara teoritis pertama berdasarkan naqli atau wahyu yang terdiri dari Al Qur'an dan Al Hadits Al Mutawatir, dan kedua berdasarkan akal. Namun dalam prakteknya lebih mendahulukan akal daripada naql. Hal ini terbukti masih menggunakan penta'wilan terhadap ayat-ayat Al Qur'an tentang sifat-sifat Allah, misalnya: yadullah diartikan kekuatan Allah, istiwa-u Llah dikatakan pengasaan dan sebagainya. Contoh lain misalnya dalam menetapkan dua puluh sifat wajib bagi Allah, diawali dengan menetapkan hanya tiga sifat wajib, kemudian berkembang dalam menyinmpulkan menjadi lima sifat, tujuh sifat, dua belas sifat atau dan akhirnya dua puluh sifat atau yang lebih dikenal dengan "Dua puluh Sifat Allah". Dari dua puluh sifat itu tujuh diantaranya dikatakan sebagai sifat hakiki sedang tigabelas yang lain sifat majazi. Penetapan sifat hakiki dan majazi adalah berdasarkan rasio.
Dikatakannya, penetapan tujuh sifat hakiki tersebut karena bila Allah tidak memilikinya berarti meniadakan Allah. Ketujuh sifat hakiki tersebut adalah hayyun bihayatin, alimun bi ilmin, qadirun bi qudratin, sami'un bi sam'in, basyirun bi basharin, mutakallimun bi kalamin dan muridun bi iradatin. Sedangkan mengenai tiga belas sifat majazi bila dikatakan sebagai sifat hakiki berarti tasybih atau menyamakan Allah dengan makhluk.
Ketika ditanyakan :"Bagaimana menetapkan sifat hakiki tersebut, sedangkan sifat itu secara lafziah sama dengan sifat-sifat yang dimiliki oleh makhluk?" Jawabannya: "Sifat-sifat tersebut dari segi lafaz sama dengan makhluk, namun bagi Allah SWT mempunyai arti 'maha' sesuai dengan kedudukan Allah yang Maha Kuasa." Kalau demikian seharusnya tidak perlu kawatir dalam menerapkan tiga belas sifat yang lain dengan mengatakannya sebagai sifat hakiki bukan ditetapkan sebagai majazi, dengan pengertian sebagaimana dalam menetapkan tujuh sifat hakiki tersebut diatas, yakni walaupun sifat-sifat Allah dari segi lafaz sama seperti sifat-sifat yang dimiliki oleh manusia, namun sifat itu bila dinisbahkan kepada Allah akan mempunyai arti Maha.
Abu Al Hasan Al Asy'ary kembali ke Salaf
Pada akhirnya setelah banyak berdialog dengan seorang bernama Al Barbahari (wafat 329 H), Abul Hasan Al Asy'ary menyadari kekeliruannya dalam pemahaman aqidah terutama dalam menetapkan sifat-sifat Allah dan hal lain tentang ghaibiyat. Empat tahun sebelum beliau wafat beliau mulai menulis buku "Al Ibanah fi Ushul Al-Diyanah" merupakan buku terakhir beliau sebagai pernyataan kembali kepada faham Islam sesuai dengan tununan salaf. Namun buku ini tidak sempat terbahas secara luas di kalangan umat Islam yang telah terpengaruh oleh pemikiran beliau sebelumnya.
Untuk mengenal lebih jauh tentang kaidah pemikiran beliau di bidang aqidah sesudah beliau kembali ke metode pemikiran salaf yang kemudian lebih dikenal dengan Salafu Ahli As Sunnah wa Al Jama'ah, beliau merumuskannya dalam tiga kaidah sebagai berikut:
1. Memberikan kebebasan mutlak kepada akal sama sekali tidak dapat memberikan pembelaan terhadap agama. Mendudukkan akal seperti ini sama saja dengan merubah aqidah. Bagaimana mungkin aqidah mengenai Allah dapat tegak jika akal bertentangan dengan wahyu.
2. Manusia harus beriman bahwa dalam urusan agama ada hukum yang bersifat taufiqi, artinya akal harus menerima ketentuan wahyu. Tanpa adanya hukum yang bersifat taufiqi maka tidak ada nilai keimanan.
3. Jika terjadi pertentangan antara wahyu dan akal maka wahyu wajib didahulukan dan akal berjalan dibelakang wahyu. Dan sama sekali tidak boleh mensejajarkan akal dengan wahyu apalagi mendahulukan akal atas wahyu.
Adapun manhaj Abul Hasan dalam memahami ayat (tafsir) adalah sebagai berikut:
1. Menafsirkan ayat dengan ayat.
2. Menafsirkan ayat dengan hadits
3. Menafsirkan ayat dengan ijma'.
4. Menafsirkan ayat dengan makna zahir tanpa menta'wilkan kacuali ada dalil.
5. Menjelaskan bahwa Allah menurunkan Al Quran dalam bahasa Arab, untuk itu dalam memahami Al Quran harus berpegang pada kaidah-kaidah bahasa Arab.
6. Menafsirkan ayat dengan berpedoman kepada asbabun-nuzul dari ayat tersebut
7. Menjelaskan bahwa isi ayat Al Quran ada yang umum dan ada yang khusus, kedua-duanya harus ditempatkan pada kedudukannya masing-masing.
Banyak sekali buku-buku karya Abul Hasan Al Asy'ary. Yang ditulis beliau sebelum tahun 320 (sebelum kembali kepada manhaj salaf) lebih dari 60 buku. Sedangkan yang ditulis sesudah tahun 320 hampir mencapai 30 buah buku, diantara yang terakhir ini adalah Al Ibanah fi Ushul Ad Diyanah. Wallahu A'lam.
Minggu, 09 Oktober 2011
Mengandalkan amal ibadah menjadikan kurang harap kepada Allah
1. Min alamatil I’timaadi ‘alal ‘amali nuqshaanurrajaa-I ‘inda wujuudil zalali
( Termasuk tanda-tanda seseorang berpegangan /
mengandalkan amal ibadahnya adalah kurangnya rasa harap akan rahmat Allah ketika
ia tergelincir melakukan
perbuatan dosa). Berpegangan atau mengandalkan pertolongan Allah
merupakan sifat arifuun yang
ahli mengesakan Tuhan. Dan berpegangan / mengandalkan kepada selain Allah
adalah sifat orang yang lalai dan bodoh, apa saja yang termasuk selain Allah
hingga berpegangan kepada ilmunya,
dan amalnya, dan ahwalnya. Iadapun
ahli ma’rifat
yang selalu mengesakan Tuhan, sesungguhnya mereka berada dalam kondisi
kelapangan dalam kedekatannya dengan Allah dan musyahadahnya. Mereka selalu menatap / bertawajuh
kepada Tuhannya dan mereka fana
dari diri mereka sendiri. Oleh karena itu apabila mereka tergelincir dalam dosa
atau mereka lalai,
maka mereka selalu melihat akan peran dan campur tangan Tuhan terhadap segala
sesuatu yang terjadi pada dirinya, dan mereka melihat mengalirnya qadha Allah kepada mereka.
Demikian juga apabila mereka dapat melakukan keta’atan
kepada Allah maka mereka tidak melihat segalanya merupakan hasil dari usahanya
sendiri, demikian juga mereka tidak melihat adanya kekuatan dirinya dalam
melakukan keta’atan, kerana yang terlebih dahulu masuk ke dalam hati mereka
adalah dzikir
atau ingat kepadaTuhannya, oleh karena itu dirinya tenang di dalam alirang taqdirNya dan hatinya juga
tenang terhadap apa saja yang terlintas kepadanya dari pancaran cahayaNya. Oleh
karena itu tiada beda dari dua keadaan yang dialaminya –yaitu ketika ta’at dan
ketika tergelincir dalam dosa-, karena sesungguhnya mereka telah tenggelam di
dalam lautan tauhid .
Maka dari itu sama saja bagi mereka antara rasa takut / khauf dan harap / raja’ . oleh karena itu
tidaklah mengurangi rasa takut mereka meskipun mereka telah berhasil menjauhi
kemaksiyatan. Juga tidak menambahi dari harap mereka dengan amal kebaikan yang
telah mereka lakukan.
Dikatakan, “Orang ‘arif
tegak berdiri kokoh dengan pertolongan Allah. Sungguh Allah telah
menjaga urusan mereka. Apabila tampak keta’atan dari mereka, maka mereka tidak
mengharapkan pahala karena mereka tidak melihat dirinya yang melakukan amal
keta’atan. Demikian pula apabila terjadi perbuatan dosa, maka mereka tiada
melihat selain kepada ALlah yang mengalirkan taqdirNya. Maka hatinya menjadi
tenang dengan Allah dan penglihatannya kepadaNya dan takut akan kebesaranNya
serta harapannya kepadaNya.
Adapun selain mereka, maka mereka menisbatkan kepada
dirinya sendiri akan amal, perbuatan, dan mereka mengambil bagian dari segala
amal mereka. Oleh karena itu mereka berpegangan kepada amal mereka dan hatinya
merasa tenang akan hal keadaan mereka. Kemudian apabila mereka tergelincir pada
perbuatan dosa, maka akan berkuranglah harap/raja’
mereka akan rahmat ampunan dan pertolongan Allah sebagaimana mereka ketika
melakukan ta’at maka mereka menjadikannya sebagai andalan dan pegangan yang
mereka anggap dapat menyelamatkan. Akhirnya mereka tidak sadar telah bergantung
kepada asbab dan
terhijab dari Tuhaninya.
Oleh karena itu barang siapa yang mendapati tanda dari keadaan yang demikian
ini, naka sudah seharusnyalah ia mengetahui posisi dan kedudukannya sehingga
tidak mendakwakan diri sebagai bagian dari golongan khos / orang-orang pilihan yang ahli dekat
dengan Allah. Dan posisi mereka sesungguhnya masih pada golongan Ashabil Yamiin.
Telah berkata Sayikh Abu Abdurrahman As-Sulamy dan
AL-Hafidz Abu Na’im Al-ishfahaany dari Yusuf bin AL-Husain Ar-Razy RA,
“sebagian orang datang kepadaku dan berkata kepadaku,’Janganlah sekali-kali
engkau melihat keinginanmu dalam semua amalmu kecuali engkau bertaubat
karenanya’. Maka aku jawab, “Jika taubat dapat menyelamatkan diriku, maka tidak
aku ijinkan ia membuatku merasa aman dari Tuhanku. Jika kejujuran dan
keikhlasan keduanya menjadi hambaku, niscaya aku jual keduanya sebagai kezuhudanku
dari keduanya. Karena sesunguhnya jika diriku di sisi Allah ditentukan olehNya
sebagai orqang yang beruntung dan diterima amalnya, maka tidaklah
mengkhawatirkan diriku segala bentuk dosa dan kesalahan. Dan jika diriku
disisiNya dikehendaki sebagai orang yang celaka, maka tidaklah akan
menyelamatkanku semua amal, kesungguhan dan keikhlasanku. Dan sesungguhnya
Allah telah menjadikanku sebagai manusia yang tanpa amal apapun demikian pula
penolong yang menyelamatkanku dariNya. Kemudian Ia menunjukkanku kepada
agamaNya yang diridhoiNya dengan firmanNya Barang siapa yang mengambil agama selain agama Islam maka
tidak akan diterima dan ia di akhirat termasuk orang-orang yang merugi oleh
karena itu peganganku kepada kemurahanNya dan belas kasihNya lebih utama bagiku
daripada peganganku kepada amalku dan sifatku yang tidak sempurna. Karena
sesungguhnya membandingkan kemurahan Allah dan kasih sayangNya dengan amal dan
perbuatan kita adalah disebabkan kekurang tahuan kuta akan kemurahan Allah dan
kebaikanNya.
Syahwat yang halus
2. Iradatukat tajriid, ma’a iqamatil Laahi
iyyaaka fil asbaab minas syahwatil khofiyyah. Wa iraadatukal asbaab ma’a
iqamatil Laahi iyyaaka fit tajriid inchithaatu ‘anil himmatil ‘aliyyah (Keinginanmu
untuk ber Tajrid /
tidak bekerja dan mengandalkan kemurahan Allah padahal
Allah menempatkan kamu pada maqam Asbab
/ harus bekerja untuk mendapatkan rizki, yang
demikian ini termasuh syahwat yang sangat halus dan lembut. Dan keinginanmu
untuk berada pada maqam Asbab
padahal Allah menempatkan dirimu pada maqam tajrid
, maka yang demikian ini adalah terjatuh dari himmah yang tinggi).
Yang
dimaksud asbab
adalah aktifitas yang menyebabkan seseorang mendapatken sesuatu dari harta
dunia misalnya bekerja untuk mendapatkan rizki untuk menafkahi diri sendiri
maupun keluarga. sedangkan yang dimaksud Tajrid
adalah ketidak adanya aktifitas tersebut/ berusaha mendapatkan rizki
dikarenakan sudah kuat tawakalnya kepada Allah yang telah menjamin rizki semua
makhluk. Oleh karena itu barang siapa yang ditempatkan Allah ada maqam asbab kemudian ia ingin
keluar dan berpindah ke maqam tajrid
maka yang demikian ini adalah termasuk syahwat
yang sangat halus dan lembut yang terkadang orang tidak menyadari bahwa
dorongan tersebut berasal dari hawa nafsu. Dan dinamakan syahwat adalah
dikarenakan oleh tidak adanya kerelaan hati terhadap apa yang dikehendaki oleh
Allah Ta’ala kepadanya sedangkan yang ia kehendaki berlawanan dengan
kehendakNya. Dan dinamakan syahwat yang halus atau lembut adalah karena ia
tidak bermaksud dengan keinginannya tersebut untuk mendapatkan balasan dunia,
akan tetapi sebenarnya yang ia maksudkan adalah hanya untuk mendekatkan diri
kepada Allah. Akan tetapi dengan keinginannya untuk berpindah dari apa yang
telah Allah tetapkan baginya adalah termasuk menguraangi adab atau tata krama
antara dia dengan Tuhannya, dan juga penilikannya kepada maqam yang tinggi padahal
belum sampai waktunya baginya.
Adapun
tanda-tanda seseorang ditemaptkan Allah pada maqam asbab apabila ia tetap tetap tenang dengan
bekerja dan menghasilkan rizki untuk bekal beribadah kepada Allah, sementara
disela-sela kesibukannya mencari rizki, ia memperoleh kebaikan yang banyak
dalam urusan agamanya demikian pula memperoleh keselamatan agamanya.
Dan
tanda-tanda seseorang ditempatkan Allah dalam maqam tajrid adalah tetapnya dia dalam kenikmatan
melaksanakan ibadah kepada Allah selama ketajridannya, dan hatinya menjadi
semakin bersih dan suci karena tidak tercemar oleh pergaulan maupun mencemari
pergaulan. Demikian pula dapat dilihat akan keselamatan hatinya dari pengaruh
buruk atau sebaliknya sedangkan dirinya semakin kuat keyakinan dan
ketawakalannya kepada Allah. Dan pula tanda seseorang ditempatkan oleh Allah
dalam suatu maqam
maka Allah akan melanggengkan orang itu dalam keadaan tersebut dan ia
mendapatkan apa yang dimaksudkan yaitu beberapa anugerah ilahiyah dan kelezatan
beribadah kepada Tuhannya.
Sesungguhnya
sebagian dari kebiasaan musuh (syaithan) adalah bahwasanya ia
mendatangimu di tempat di mana Allah memposisikanmu pada tempat/maqam itu. Kemudian ia
(syaitan) menjadikan maqam itu terlihat buruk bagimu sehingga engkau
menginginkan untuk berpindah dari maqam
yang diberikan Allah kepada maqam
yang lain. Demikian pula ia selalu membisikkan ajakan ke dalam hatimu dan
mengacaukan semua waktumu semisal ia mendatangi ahli asbab (orang yang bekerja). Kemudian ia
berkata, ‘seandainya engkau mau meninggalkan bekerja dan engkau mahu berpindah
ke maqam tajrid niscaya bersinarlah
kepadamu beberapa cahaya / nuur
dan akan suci bersihlah hati dan asrarmu.
Padahal
hamba ini sebenarnya tidak menghendaki yang demikian / bertajrid . dan pula
sebenarnya tidaklah ia mampu untuk berada di maqam tajrid. Akan tetapi yang baik baginya
sebenarnya adalah berada di maqam asbab
yang kemudian ia tinggalkan untuk berpindah ke maqam tajrid. Dengan kepindahannya
itu maka menjadi goyahlah imannya dan hilanglah qana’ahnya serta ia menghadapkan dirinya
kepada mengharapkan sesuatu dari makhluq sampai ia mengkhawatirkan urusan
rizkinya. Maka tercampaklah ia ke lautan dosa dan sememangnya beginilah maksud
dari musuh / syaithan kepadanya. Karena sesungguhnya ia / syaithan
mendatanginya dalam rupa seorang penasihat yang baik sebagaimana ia telah
datang juga kepada datuk kita Nabi Adam AS sebagaimana yang difirmankan Allah
SWT di dalam kitab Al-Qur’aanul Kariim ,”A’udzu
biLlaahiminassyaithaanirrajiim BismilLaahirRahmaanirRahiim, Wa qaala maa
nahaakumaa rabbukumaa ‘an haadzihissajarat illa an takuuna malakaini au
takuunaa minal khaalidiin. Wa qaasamaahumaa innyy lakumaa laminannaashihiin”.
Yang artinya “Dan syaithan
berkata, ‘Tiadalah Tuhanmu melarang kamu sekalian dari pohon ini, kecuali
engkau akan menjadi malaikat karenanya atau engkau akan menjadi kekal (di Dalam
surga)’, Dan Iblis bersumpah kepada keduanya, ‘Sesungguhnya aku adalah memberi
nasihat kepadamu’.
Demikian
pula syaithan mendatangi orang yang mutajarrid
(menempuh jalan tajrid) dan berkatalah syaithan kepada
mereka, “Sampai kapan engkau meninggalkan maqam
asbab ? apakah engkau tidak mengetahui bahwasanya meningga;kan maqam asbab akan
menyebabkan hati menginginkan apa saja yang di tangan manusia, dan dapat
membukakan pintu tamak?”.
“Jika saja engkau mau memasuki makam asbab
maka engkau tiada akan tamak kepada apa yang ada di tangan manusia. Bahkan
oeang lain akan menantikan pemberian Allah melalui dirimu”.
Padahal
hamba ini ketika masih di maqam
tajrid waktunya sangat indah dipergunakan untuk mengabdi
kepada Tuhan, dan bersinarlah nuur
di dalam hatinya, dan hatinya menjadi lapang serta senggang karena ia terputus
dari makhluk. Demikian terus menerus syaithan membisikinya sehingga
berpindahlah ia ke maqam
asbab. Maka menjadi keruhlah hatinya, dan kegelapan menyelimuti
serta ia kembali pada aqal penempuhan perjalanannya. Oleh karena itu hendaknya
kita faham dan selalu memohon pertolongan allah karena barang siapa yang
berpegangan teguh kepada allah niscaya ditunjukkannyalah kita kepada jalan yang
lurus.
Adapun
maksud syaithan dari yang demikian ini adalah untuk menghalangi seorang hamba
dari ridha kepada
pemberian Allah. Dan tujuan syaithan juga untuk mengeluarkan
kita dari pilihan Allah kepada pilihannya.
Kondisi apasaja yang dipilihkan Allah bagi kita, maka
Allah akan selalu menyertai dengan pertolonganNya. Akan tetapi segala
sesuatu yang kita pilih untuk keinginan kita sendiri, maka Allah menyerahkan
urusannya kepada diri kita. Oelh karena itu katakanlah, “Rabby adkhilny mudkhala shidqin wa
akhrijny mukhraja shidqin waj ‘al ly milladunKa Shulthaanannashiira”. “Wahai Tuhanku, masukkanlah aku ke
tempat yang benar, dan keluarkanlah aku ke tempat keluar yang benar, dan
jadikanlah penolong untukku dari sisiMu’.
Yang dimaksud Mudkhala shidqin adalah
kondisi yang kita masuki dengan pemilihan Allah tidak dengan pilihan kita
sendiri. Demikian pula mukhraja
shidqin.
Kuatnya Himah tidak lepas dari taqdir
KEKUATAN
SEMANGAT (AZAM, CITA-CITA, IKHTIAR) TIDAK BERUPAYA MEMECAHKAN BENTENG TAKDIR.
Himah yang kuat adalah kekuatan jiwa yang karenanya dapat merubah
dan menyebabkan beberapa keadaan yang wujud (sesuatu
kejadian yang luar biasa) atas ijin
Allaah Ta’ala. Seperti kekuatan doa seseorang yang dapat merubah batu menjadi emas, dapat
bebergian dari satu tempat ke tampat yang lain hanya dalam beberapa detik,
seperti juga dapat berjalan di atas air, dan lain sebagainya. Pada hakekatnya, himmah yang kuat, sedikitpun tidak dapat
berpengaruh dan tidak membekas terhadap segala sesuatu kecuali dengan qadha dan qadar. Inilah yang kami maksudkan dengan
kalimat atas izin
Allah. Dan bagi Aulia / kekasih Allah yaitu para wali, himmah yang
kuat ini akan menjadi karramah yang akan menambah kemuliaan dan
kedekatannya kepada Al-Khaliq. Adapun bagi orang yang zalim selain
para aulia, maka kekuatan himmah yang besar yang dapat menyebabkan kejadian
yang luar biasa adalah merupakan istidraj dan tipudaya bagi mereka sebagaimana yang dilakukan oleh tukang
sihir dan tukang tenung.
Al-Hasil, wajib bagi kita beri’tiqad bahwasanya segala sesuatu yang
terjadi bukanlah merupakan kekuatan manusia semata tanpa peran serta Allah, akan tetapi pada hakekatnya hanya Allah jua lah yang
menjadikan sebab sehingga semuanya bias terjadi.Minggu, 02 Oktober 2011
Muraqabah (Pengawasan)
1/67. Abu Ya'la Syaddad bin Aus RA
mengatakan bahwa Nabi SAW bersabda,
الكَيِّسُ مَنْ
دَانَ نَفْسَهُ ، وَعَمِلَ لِمَا بعدَ المَوتِ ، والعَاجِزُ مَنْ أتْبَعَ نَفْسَهُ
هَواهَا وَتَمنَّى عَلَى اللهِ الاَمَانِيَّ
"Orang yang sempurna akalnya ialah yang mengoreksi
dirinya dan bersedia beramal sebagai bekal setelah mati. Dan orang yang rendah
ialah yang selalu menurutkan hawa nafsunya. Disamping itu, ia mengharapkan
berbagai angan-angan kepada Allah." (HR. Tirmidzi, ia mengatakan bahwa
hadits ini hasan).
Keterangan:
Hadits ini sanadnya dha'if, karena ada seorang perawi
bemama Abu Bakar Ibnu Abi Maryam; dia kacau hafalannya setelah rumahnya
kecurian.
Selanjutnya Adz-Dzahabi menolak dan mengritiknya,
dengan berkata, "Demi Allah, Abu Bakar adalah orang yang suka menduga-duga
dalam meriwayatkan hadits. Ada Syahid untuk hadits tersebut dari Anas RA, yang
diriwayatkan oleh Al Baihaqi dalam Syu'abul Iman, tetapi beliau berkata,
"Tetapi dalam sanad hadits ini ada perawi bemama Aun bin Ammarah, dia orang yang
dhaif dalam periwayatannya."
Lihat kitab Silsilah Ahadits Adh-Dha 'ifah hadits no.
5319; Dha'if Al Jami' Ash-Shaghir no. 4305; Al Misykah no. 5289; Dha'if Sunan
At-Tirmidzi hadits no. 436; Dha'if Sunan Ibnu Majah hadits no. 930; Al Misykah
hadits no. 5289; Bahjatun-Nazhirin hadits no. 66 oleh Syaikh Sahm bin Id Al
Hilali; Takhrij Riyadhus-Shalihin hadits no. 66 oleh Syaikh Syu'aib Al
Arnauth.
2/69. Umar RA
mengatakan bahwa Nabi SAW bersabda,
'"Seorang laki-laki tidak akan ditanya (tidak
dituntut) mengapa ia memukul istrinya" (HR. Abu Daud dan lainnya)
Keterangan:
Sanad hadits ini dha'if. karena ada dua illat (cacat),
yaitu: pertama, pada riwayat Imam Ahmad tersebut perawinya bernama Daud Al Audi,
jika yang dimaksud adalah Daud bin Yazid Al Audi, maka ia orang yang tidak kuat
dalam periwayatan hadits. Sedangkan pada riwayat Abu Daud dan Ibnu Majah
disebutkan Daud bin Abdullah Al Audi, jika yang dimaksud adalah perawi ini, maka
ia adalah orang yang tsiqah. Kedua, baik riwayat Abu Daud, Ibnu Majah, maupun
Imam Ahmad, ada perawi lainnya yang bernama Abdurrahman Al Musla, ia tidak
diketahui identitasnya (majhul), sebagaimana yang dikatakan Adz-Dzahabi dalam
Al-Mizan.
Lihat kitab Irwaul Ghalil hadits no. 2034; Dha 'if
Sunan Abu Daud hadits no. 469; Dha 'if Sunan Ibnu Majah hadits no. 431; Al
Misykah hadits no. 3268; Dha'iful Jami' hadits no. 6218; Bahjatun-Nazhirin
hadits no. 68; Takhrij Riyadhush-Shalihin hadits no. 68.
KETIKA DOA BELUM TERKABUL
Dalam realitas kehidupan kebanyakan manusia saat ini selalu menggerutu
saat permintaannya tidak kunjung terkabulkan,bahkan tidak sedikit pula
bermunculan anggapan-anggapan yang bermuara pada perasangka yang
negatif. Demikian juga dalam doa kita kepada Allah Subhanahu wa ...Ta’ala,terlebih
disaat ditimpa penderitaan dan kesulitan hidup yang beragam. Namun
demikian sebagai muslim yang punya kualiatas keimanan yang teguh dan
kokoh selalu berbaik sangka dengan apa yang dialami disetiap kesulitan
dan terpaan musibah,selalu optimis penuh sabar bahwa apa yang dialaminya
karena semata-mata telah digariskan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Apabila doa belum terkabul setidaknya ada dua penghalang, pertama
“karena terburu-buru mengharapkan perkenan-Nya’.(H.R Muttafag Alaih).Di
dunia ini selalu berlangsung proses causa prima yaitu tidak ada akibat
tanpa sebab (syarat),tidak ada hasil tanpa kerja keras dan tidak ada
pahala tanpa amal shalih. Demikian juga ketika doa belum terkabul karena
ada persyaratan yang belum memenuhi syarat. Ibnu Al Qayim Al-Jauziyyah
mengatakan bahwa syarat-syarat terkabulnya doa tebagi pada dua
kategori berdasarkan kriteria dan waktu berdoa (awqat al ijabah), ada
tiga golongan yang dijamin Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam akan
diperkenankan doanya yaitu : Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam
Bersabda : “Tiga permohonan (Doa) yang pasti diperkenankan Allah tanpa
ditunda “Doa orang yang di dzalimi,Doa Seseorang dalam perjalanan dan
Doa orang tua kepada anaknya.” (H.R. Abu Dawud). Adapun waktu doa yang
pasti di ijabah Ibnu Al Qayim Al-Jauziyyah menyebutkan enam waktu yaitu :
“Sepertiga malam,saat adzan,antara adzan dan iqamat,selesai shalat
wajib,saat imam naik mimbar pada hari jumat hingga selesai, dan saat
akhir waktu Asar,”(Ad Da’u Wa ad Dawa ‘ : Hal ,14). Penyebab yang
kedua doa tidak terkabul karena sering berbuat maksiat, karena salah
satu syarat untuk dekat dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala,adalah harus
memiliki hati yang suci bersih, karena seseorang yang berbuat maksiat
pastilah hatinya terkotori sehingga sulit dekat dengan Allah Subhanahu
wa Ta’ala. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, Bersabda :
“Seorang mukmin jika berbuat satu dosa, maka ternodalah hatinya dengan
satu noktah berwarna hitam. Jika dia bertaubat, meninggalkannya dan
beristighfar, hatinya akan kembali jernih. Jika dosanya itu
bertambah-tambah, noktah hitam itupun turut bertambah hingga menutupi
hatinya. Maka itulah karat yang disebut Allah dalam Al-Quran. “(Riwayat
Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad dan Baihaqi). Rasulullah Shallallahu Alaihi
wa Sallam, menganjurkan agar umatnya banyak beristighfar memohon
Ampunan Kepada-Nya. Dalam riwayat, Rasulullah beristighfar setiap hari
tidak kurang daripada 70 kali,100 kali sehari, Istighfar bukan saja
membersihkan dosa dan memohon Ampunan, tetapi jalan mendekatkan diri
kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dengan beristighfar kita akan
merasakan diri senantiasa diperhatikan Allah dan tiada peluang melakukan
sesuatu yang dilarang-Nya. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam,
Bersabda : “Barangsiapa memperbanyak istighfar, niscaya Allah
menjadikan untuknya setiap kesusahan itu ada jalan keluar dan dia diberi
rezeki yang datangnya tanpa diduganya”. (Riwayat Ahmad). Jadi jelaslah
bahwa setiap kesalahan dan dosa yang dilakukan menjadi satu titik
hitam di dalam hati. Jika tidak dibersihkan segera, titik hitam itu lama
kelamaan menjadi bertumpuk hitam dan seterusnya akan menutup pintu hati
daripada menerima cahaya kebenaran dan dekat dengan Allah Subhanahu wa
Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala.Berfirman : “Kepada-Nya naik
perkataan-perkataan yang baik dan amal shalih dinaikkan-Nya.”(Q.S Fathir
: 10 ). Sebagai muslim yang punya kualiatas keimanan yang teguh,
tidak sepatutnya kita berburuk sangka’kepada Allah Subhanahu wa
Ta’ala, justru introspeksi diri dan merenungi dengan tetap meyakini
Kemurahan dan Rahmat-Nya akan datang cepat atau lambat. Karena suka duka
didalam kehidupan ini adalah ujian untuk menguji kwalitas
keimanan,mengingatkan kealpaan dan akan memperoleh ganjaran pahala.
Allah Subhanahu wa Ta’ala.Berfirman : “Katakanlah “Wahai hamba-hamba-KU
yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian
berputus asa dari Rahmat Allah.Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa
semuanya.Sesungguhnya DIA-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang,”
(Q.S. Az Zumar : 53). Sebagai hamba Allah yang selalu mengharap
keridhan-Nya, janganlah berhenti berharap, karena Kemurahan-Nya membuka
kita kepada harapan untuk bangkit membangun masa depan baik di dunia
terlebih mengharap kehidupan lebih baik yang kekal di akhirat.Doa
merupakan simbol kerendahan dan ketidakberdayaan sebagai Hamba di
hadapan-Nya,dengan demikian hatipun selalu diwarnai rasa tentram. Para
ulama mengarisbawahi bahwa syarat terkabulnya doa yaitu : Tidak
terburu-buru mengharapkan perkenan-Nya,dan Yakin bahwa doa akan
dikabulkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dalam Hadist Qudsi Allah
Subhanahu wa Ta’ala.Berfirman : “AKU bergantung prasangka seorang
hamba,”(H.R.Bukhari). Dan syarat terkabulnya doa dilakukan dengan
rendah hati,dan doa tidak akan terwujud bila tanpa ikhtiar, usaha kerja
keras dalam mengharapkan apa yang ada dalam doa tersebut.
Sahabat-sahabat yang di Rahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala, .
Mudah-mudahan manfaat buat kita semua,yang benar haq semua datang-Nya
dari Allah Subhanahu wa Ta’ala,Yang kurang dan khilaf mohon sangat
dimaafkan ’’Akhirul qalam “Wa tawasau bi al-haq Watawa saubil shabr
“.Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala . senantiasa menunjukkan kita pada
sesuatu yang di Ridhai dan di Cintai-Nya..Aamiin Allahuma AAmiin.
❀.•❤•Walhamdulillah Rabbil’alamin •❤•.❀
❀.•❤•Walhamdulillah Rabbil’alamin •❤•.❀
Langganan:
Postingan (Atom)